Hujan turun seperti sesuatu yang sudah lama ditahan, jatuh tanpa ragu, tanpa jeda, seolah langit akhirnya menyerah pada sesuatu yang tak bisa lagi ia simpan. Di bawah atap seng sebuah warung kopi kecil pinggir jalan yang nyaris tak pernah benar-benar sepi, seorang laki-laki duduk sendiri dengan secangkir kopi yang uapnya perlahan hilang ditelan angin.
Namanya Arga. Ia bukan seseorang yang mencolok. Bahkan, jika seseorang duduk dua meja darinya, mereka mungkin tak akan benar-benar memperhatikan keberadaannya. Wajahnya biasa saja, sedikit letih, dengan garis tipis di bawah mata yang bukan karena usia, melainkan karena terlalu sering memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Di hadapannya, ada sebuah buku catatan berwarna cokelat tua. Sudah agak udang di bagian pinggir, seperti sering dibuka lalu ditutup tanpa benar-benar selesai dibaca. Di dalamnya, penuh tulisan tangan–rapi, tapi tidak selalu stabil. Ada bagian yang ditulis dengan mantap, ada juga yang seperti ragu-ragu, seolah penulisnya berhenti di tengah kalimat karena pikirannya lebih cepat dari tangannya.
Buku itu berisi rencana. Banyak rencana.Tentang kota yang ingin ia tinggali. Tentang usaha kecil yang ingin ia bangun. Tentang perjalanan panjang yang ia bayangkan akan mengubah hidupnya. Tentang seseorang yang ingin ia ajak tumbuh bersama.
Namun, seperti hujan yang tak pernah benar-benar bisa dikendalikan, hidup Arga juga tidak pernah berjalan sesuai garis-garis yang ia gambar sendiri.
Beberapa bulan yang lalu, Arga bukan orang yang duduk diam seperti ini. Ia bergerak cepat, terlalu cepat mungkin. Ia punya ide tentang sebuah usaha furnitur kecil–bukan sekadar menjual barang, tapi menjual cerita. Ia ingin setiap kursi, meja , dan lemari yang ia buat punya makna, punya alasan kenapa mereka ada. Ia ingin orang yang membeli bukan sekadar membeli benda, tapi juga membeli potongan hidup yang bisa mereka rasakan.
Ia menamainya dalam catatan itu: “Proyek Rumah yang Pulang.” Nama yang terdengar sederhana, tapi baginya, itu lebih dari sekadar branding. Itu adalah jawaban dari keresahannya sendiri–tentang bagaimana manusia selalu mencari tempat untuk kembali, bahkan ketika mereka tidak tahu ke mana harus pulang.
Ia sudah membuat sketsa desain. Sudah menghitung modal. Sudah mencari supplier kayu. Sudah bahkan membayangkan bagaimana ruang workshop-nya akan terlihat. Di bawah gambar itu, ada tulisan kecil: “Gue bakal mulai di sini.” Tapi, dunia nyata tidak pernah sesederhana garis pensil di atas kertas.
Masalah pertama datang tanpa peringatan. Modal yang ia kira cukup, ternyata jauh dari cukup. Harga bahan naik. Supplier yang ia percaya tiba-tiba berhenti produksi. Tempat yang ia incar untuk workshop diambil orang lain dua hari sebelum ia sempat membayar uang muka.
Ia masih bertahan. Arga bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia mengubah rencana, menyesuaikan angka, bahkan mengurangi skala impiannya. Dari workshop besar menjadi ruang kecil. Dari produksi banyak menjadi produksi terbatas. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Nggak apa-apa. Pelan-pelan juga jadi.”
Namun masalah kedua datang bukan dari luar. Melainkan dari dalam. Keraguan. Itu datang di malam hari, saat semua orang sudah tidur dan hanya suara kipas angin yang berputar-putar tanpa henti. Arga sering duduk di lantai kamarnya, membuka kembali catatan itu, membaca ulang rencana yang dulu terasa begitu masuk akal. Tapi entah kenapa, di malam-malam seperti itu, semua terasa…rapuh.
“Kalau gagal gimana?”
“Kalau ini cuka ide yang kedengarannya bagus tapi nggak bisa jalan?”
“Kalau gue cuma terlalu percaya diri?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar meminta jawaban. Mereka hanya ada, mengendap, dan perlahan menggerogoti keyakinan yang sebelumnya begitu kuat.
Dan di antara semua itu, ada satu hal lain yang juga perlahan berubah. Seseorang. Namanya Nara. Ia bukan bagian dari rencana awal Arga. Setidaknya, tidak secara eksplisit. Tapi dalam banyak halaman catatan itu, ada namanya–kadang disebut, kadang disiratkan.
Nara adalah orang yang pertama kali bilang kalau ide Arga itu “beda.” Ia yang mendengarkan panjang lebar tentang konsep furnitur yang punya cerita. Ia yang tertawa ketika Arga terlalu serius menjelaskan detail kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.
“Lu mikir terlalu jauh,” kata Nara suatu sore.
“Memang,” jawab Arga, “tapi kalau nggak gitu, gue nggak punya alasan buat mulai.”
Nara tersenyum waktu itu. Senyum yang sederhana, tapi cukup untuk membuat Arga merasa bahwa semua ini… mungkin bisa benar-benar terjadi.
Mereka sering bertemu di tempat yang sama–warung kopi sederhana ini. Duduk berjam-jam, berbicara tentang banyak hal yang kadang penting, kadang tidak. Tentang masa depan. Tentang ketakutan. Tentang hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain. Dan tanpa Arga sadari, Nara bukan hanya menjadi bagian dari percakapannya, tapi juga menjadi bagian dari bayangannya tentang masa depan.
Dalam salah satu halaman catatan, ada kalimat yang ditulis kecil, hampir tersembunyi di sudut: “Kalau ini jadi, gue pengen dia ada di situ.” Namun, tidak semua hal yang terasa dekat akan benar-benar tinggal.
Seiring waktu, pertemuan mereka mulai berkurang. Obrolan yang dulu panjang menjadi singkat. Tawa yang dulu mudah muncul menjadi jarang terdengar. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Hanya… jarak. Dan jarak itu tumbuh pelan-pelan, seperti retakan halus di kaca yang lama-lama menjadi jelas.
Sampai suatu hari, Nara berkata dengan suara yang tenang, “Aku nggak yakin kita jalan ke arah yang sama.” Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat semua rencana yang diam-diam Arga simpan tentang mereka… runtuh begitu saja.
Hujan di luar warung semakin deras. Arga masih duduk di tempat yang sama. Kopinya sudah dingin. Buku catatannya masih terbuka di halaman yang sama sejak tadi. Halaman itu berisi daftar rencana jangka panjang. Beberapa sudah dicoret. Beberapa diberi tanda tanya. Beberapa dibiarkan kosong, seolah ia sendiri tidak yakin apakah itu masih relevan atau tidak.
Ia menggeser jarinya pelan di atas tulisan-tulisan itu, seperti sedang mencoba merasakan kembali versi dirinya yang dulu–yang menulis semua ini dengan keyakinan penuh. Versi dirinya yang percaya bahwa selama ia punya rencana, ia akan tahu ke mana harus pergi. Tapi sekarang, ia tahu satu hal yang tidak pernah ia tulis di buku itu: Rencana tidak selalu punya kesempatan untuk jadi nyata. Dan itu bukan karena rencananya buruk. Kadang, hanya karena waktu yang tidak berpihak. Kadang, karena keadaan berubah terlalu cepat. Kadang, karena manusia di dalamnya berubah arah.
Di meja sebelah, dua orang tertawa. Suara mereka ringan, tanpa beban. Seperti hidup belum sempat memberi mereka alasan untuk ragu. Arga melirik sebentar, lalu kembali ke bukunya. Ia membuka halaman baru. Kosong.
Ia memegang pulpen cukup lama tanpa menulis apa pun. Seolah ada jarak antara pikirannya dan tangannya yang tidak bisa ia jembatani. Dulu, halaman kosong adalah sesuatu yang menyenangkan. Itu berarti kemungkinan. Itu berarti awal.
Sekarang, halaman kosong terasa seperti tekanan. Seperti pertanyaan: “Lu masih mau mulai lagi?’ Arga menarik nafas pelan. Ia tidak tahu jawabannya. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak memaksakan diri untuk tahu.
Hujan mulai reda. Tetesannya masih ada, tapi tidak lagi deras. Jalanan di depan warung terlihat basah, memantulkan cahaya lampu yang mulai menyala satu persatu. Orang-orang mulai keluar dari tempat berteduh. Beberapa terburu-buru, beberapa santai, seolah hujan tadi hanya jeda kecil dalam hari mereka.
Arga menutup bukunya perlahan. Ia berdiri, membayar kopi yang bahkan tidak ia habiskan, lalu melangkah keluar. Udara setelah hujan terasa berbeda. Lebih dingin, tapi juga lebih jernih. Ia berdiri sejenak di bawah atap, melihat jalan di depannya. Dulu, ia selalu tahu ke mana ia akan pergi setelah ini. Sekarang, tidak. Dan anehnya, itu tidak seburuk yang ia bayangkan.
