Ada banyak anime yang bercerita tentang perang. Tentang pedang, darah, ambisi, dan kemenangan. Tapi Anime Vinland Saga bukan sekadar anime perang.
Anime ini memang dipenuhi pertarungan brutal, penaklukan, dan kematian. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin terasa bahwa anime ini sebenarnya sedang membahas sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia saat ini: rasa kosong, kebencian, trauma, dan pencarian makna hidup.
Dan mungkin itu alasan kenapa Vinland Saga terasa begitu membekas. Karena dibalik kisah bangsa Viking dan medan perang yang dingin, anime ini sebenarnya sedang berbicara tentang kita. Tentang manusia-manusia yang tumbuh di dunia keras, lalu perlahan lupa bagaimana caranya hidup tanpa kemarahan.
Di awal cerita, kita diperkenalkan dengan karakter bernama Thorfin, ia adalah anak kecil yang hidupnya berubah setelah melihat kematian ayahnya, Thors, di depan matanya yang dibunuh oleh sekelompok pembunuh bayaran yang dipimpin oleh karakter Askelad. Sejak saat itu, hidup Thorfin hanya punya satu tujuan, yaitu balas dendam.
Yang menariknya justru, yang membunuh ayahnya itu malah merawat dan melatih Thorfin agar dia menjadi petarung yang jago dan nanti jika sudah waktunya Thorfin bisa membalaskan kematian ayahnya kepada Askelad.
Selain itu, anime ini tidak menggambarkan dendam sebagai sesuatu yang keren. Justru sebaliknya. Semakin lama Thorfin mengejar dendam, semakin ia kehilangan dirinya sendiri. Ia tumbuh menjadi manusia yang hidup tanpa arah selain kebencian. Dunia di sekitarnya berubah, orang-orang datang dan pergi, tetapi dirinya tetap terjebak dalam satu emosi yang sama.
Dan kalau dipikir-pikir, bukankah banyak manusia hari ini juga yang seperti itu? Tidak selalu dalam bentuk balas dendam ekstrim seperti di anime, terkadang bentuknya lebih halus, seperti kemarahan yang terus dipelihara, rasa sakit yang tidak pernah diselesaikan, kebencian terhadap masa lalu, atau ego yang terlalu keras untuk memaafkan.
Kita hidup di zaman ketika orang lebih mudah menyimpan dendam daripada memahami. Media sosial bahkan membuat kemarahan terasa seperti dinamis. Semakin marah seseorang, semakin merasa dirinya benar. Padahal kebencian yang dipelihara terlalu lama seringkali tidak menghancurkan musuh kita. Ia menghancurkan diri kita sendiri. Dan Anime Vinland Saga menunjukkan itu dengan sangat jujur.
Mungkin salah satu kalimat paling terkenal dari anime Vinland Saga ini datang dari Thors, yaitu:
You Have No Enemies
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi semakin dewasa, semakin terasa berat maknanya. Karena dunia modern hari ini justru dibangun atas mentalitas “musuh.” Kita diajarkan untuk selalu melawan seseorang, seperti lawan politik, lawan opini, lawan kelompok lain, bahkan kadang lawan sesama manusia hanya karena berbeda pandangan.
Internet memperparah semuanya. Orang tidak lagi berdiskusi untuk memahami, tetapi untuk menang. Perbedaan pendapat berubah menjadi perang ego. Dan di tengah dunia seperti itu, Vinland Saga datang membawa gagasan yang terasa hampir mustahil, yaitu bagaimana jika manusia berhenti melihat orang lain sebagai musuh?
Bukan berarti semua orang baik, bukan berarti kita harus menerima semua tindakan buruk. Tapi anime ini mencoba menunjukkan bahwa kebencian yang terus diwariskan hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan tanpa akhir. Seseorang menyakiti karena pernah disakiti. Seseorang membunuh karena hidupnya dipenuhi perang. Dan dunia terus bergerak dalam siklus yang sama. Bukankah sejarah manusia memang sering seperti itu?
Banyak anima perang menggambarkan kemenangan sebagai sesuatu yang heroik. Tapi Vinland Saga justru terasa sangat pesimistis terhadap perang. Dalam anime ini, perang tidak melahirkan pahlawan. Ia justru melahirkan trauma. Desa dibakar, keluarga kehilangan orang-orang yang mereka cintai, anak-anak tumbuh dalam ketakutan, dan manusia perlahan kehilangan empatinya demi bertahan hidup. Yang menarik, meskipun setting-nya era Viking ribuan tahun lalu, semua itu terasa sangat relevan dengan dunia sekarang.
Hari ini, manusia mungkin hidup di era teknologi modern. Tapi konflik tetap ada di mana-mana. Perang fisik masih terjadi, kekerasan sosial meningkat, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari, manusia semakin sulit hidup dalam satu sama lain.
Kita hidup di dunia yang lelah. Lelah dengan konflik, lelah dengan kebencian, lelah dengan manusia yang terus saling menghancurkan demi merasa paling benar. Dan Vinland Saga tidak menawarkan solusi instan. Anime ini hanya menunjukkan satu hal, bahwa kekerasan hampir tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun.
Salah satu bagian paling kuat dari Vinland Saga justru muncul ketika cerita mulai melambat. Di season 1 memang kita disuguhkan dengan pertarungan yang epik, brutal, dan sadis. Tapi ketika masuk ke season 2 ketika aksi berkurang, anime ini mulai fokus pada kehampaan hidup Thorfin setelah dendamnya kehilangan arah.
Ini menarik, karena banyak orang mengira penderitaan terbesar manusia adalah ketika ia gagal mencapai tujuannya. Padahal kadang penderitaan terbesar justru datang ketika tujuan itu akhirnya hilang. Dan bukankah itu sangat relatable hari ini? Banyak orang hidup dengan target ingin sukses, ingin kaya, ingin diakui, atau ingin mencapai sesuatu. Tapi setelah semua itu tercapai, mereka tetap merasa kosong. Kenapa? Karena manusia ternyata tidak cukup hanya hidup untuk mengejar sesuatu. Manusia juga butuh alasan untuk tetap hidup setelah mendapatkannya.
Di sinilah Vinland Saga berubah dari anime perang menjadi perjalanan eksistensial. Throfin mulai mempertanyakan dirinya sendiri:
Kalau bukan untuk membalas dendam… lalu aku hidup untuk apa?
Dan menurut saya, pertanyaan itu jauh lebih menakutkan daripada pertarungan mana pun di anime ini.
Ada hal menarik lainnya dari anime Vinland Saga yang jarang dibahas, yaitu anime ini secara tidak langsung mengkritik konsep maskulinitas tradisional. Di dunia Viking, laki-laki dihormati karena kekuatan, kemampuan membunuh, dan kebenaranian di medan perang. Tapi anime ini perlahan menunjukkan sisi gelap dari semua itu. Laki-laki dipaksa memendam emosi, kekerasan dianggap kewajaran, belas kasih dilihat sebagai kelemahan, dan kalau dipikir-pikir, tekanan seperti itu masih ada sampai sekarang.
Banyak laki-laki tumbuh dengan tuntutan seperti jangan menangis, harus kuat, harus tahan banting, atau harus selalu bisa menghadapi semuanya sendiri. Akibatnya, banyak orang kehilangan kemampuan memahami emosinya sendiri. Mereka marah tapi tidak tahu kenapa, mereka lelah tapi tidak bisa cerita, mereka hancur tapi tetap dipaksa terlihat kuat.
Vinland Saga secara perlahan menghancurkan gagasan bahwa menjadi kuat berarti harus keras. Karena justru karakter paling kuat dalam anime ini adalah mereka yang memilih untuk tidak membunuh meskipun mereka mampu. Dan itu bukan kelemahan, melainkan merupakan kedewasaan.
Judul anime ini sendiri juga sebenarnya sangat simbolis. “Vinland” digambarkan sebagai tempat damai tanpa perang dan perbudakan. Sebuah tanah harapan. Tapi semakin lama cerita berjalan, semakin terasa bahwa Vinland bukan sekadar tempat fisik, melainkan sebuah simbol. Simbol tentang impian manusia akan dunia yang lebih baik. Dan jujur saja, dunia hari ini juga sedang mencari “vinland”-nya masing-masing.
Ada orang yang mencari ketenangan dalam karir. Ada yang mencarinya dalam hubungan. Ada yang mencarinya lewat uang, agama, atau pencapaian. Tapi seringkali, kedamaian bukan sesuatu yang ditemukan diluar diri, melainkan sesuatu yang harus dibangun dari dalam. Dan perjalanan Thorfin pada akhirnya bukan tentang menemukan tempat baru, melainkan menemukan versi baru dari dirinya sendiri.
Ada yang salah paham terhadap pesan damai dalam Vinland Saga. Mereka menganggap anime ini mengajarkan kepasifan. Padahal tidak. Anime ini tidak mengatakan bahwa dunia akan selalu baik. Tidak mengatakan bahwa semua orang harus diterima begitu saja. Vinland Saga hanya menunjukkan bahwa manusia selalu punya pilihan: apakah ia ingin terus hidup dalam lingkaran kebencian, atau mencoba memutusnya. Dan memilih untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar mengangkat pedang. Karena memaafkan itu sulit. Mengendalikan amarah itu sulit. Dan tetap menjadi manusia baik di dunia yang keras adalah salah satu perjuangan terbesar.
Mungkin alasan kenapa anime ini terasa begitu dekat dengan banyak orang adalah karena dunia modern sebenarnya penuh dengan manusia-manusia seperti Thorfin. Manusia yang lelah, marah, kehilangan arah, dan diam-diam mencari alasan untuk tetap hidup dengan damai.
Kita hidup di era yang sangat maju secara teknologi, tetapi sangat kacau secara emosional. Orang mudah depresi, mudah kesepian, mudah kehilangan makna hidup, dan ditengah semua itu, Vinland Saga datang bukan sebagai anime yang memberi motivasi murahan. Ia berkata bahwa manusia tidak harus terus hidup dalam kebencian. Dan kadang, kalimat sesederhana itu bisa terasa sangat menyembuhkan.
Pada akhirnya, Vinland Saga bukan cerita tentang Viking. Ia adalah cerita tentang manusia. Tentang bagaimana luka bisa mengubah seseorang, tentang bagaimana dunia yang keras bisa membuat manusia kehilangan dirinya sendiri, dan tentang usaha panjang untuk kembali menjadi manusia yang utuh.
Anime ini mengingatkan bahwa kekuatan terbesar bukan selalu kemampuan untuk menghancurkan. Kadang, kekuatan terbesar justru muncul ketika seseorang memilih untuk berhenti menyakiti. Dan mungkin, di dunia hari ini yang penuh kemarahan, konflik, dan ego yang saling bertabrakan, pesan seperti itu terasa lebih penting dari sebelumnya. Karena mungkin, yang paling dibutuhkan manusia modern bukan kemenangan, melainkan kedamaian.
