Baru satu hari aja, aku sudah mulai kebingungan. Bingung mau melakukan aktivitas apa, mau mengerjakan apa, dan bagaimana aku menghabiskan waktu luang ini. Akhirnya, aku hanya sekedar tiduran di atas kasur sambil melihat ke langit-langit kamar dan mencoba untuk merenungkan hal-hal yang selama ini jarang direnungkan. Dalam renungan itu, aku berpikir bahwa sepantasnya di umurku yang sekarang ini, aku sudah mulai berjalan dan bergerak melangkah untuk menggapai apa yang selama ini menjadi tujuan dari hidupku. Yaaa… Apalagi kalo bukan mencari kesuksesan, atau lebih tepatnya membuat sebuah kesuksesan.
Sudah banyak yang aku pikirkan tentang apa yang seharusnya dilakukan. Tetapi rasanya, itu hanya sebatas dalam pikiran, belum mampu mengaktualisasikan ke dalam tindakan. Di karenakan habbitku yang sebelumnya, memaksaku untuk terkerangkeng dalam zona kenyamanan dan tidak pernah mau mencoba untuk mulai melangkah memasuki zona perjuangan. Aku juga sebetulnya sudah membuat sebuah perencanaan untuk memulai itu. Step by step sudah dibuat dalam buku catatan, tapi entah kenapa sangat sulit untuk memulai step awal yang telah aku tuliskan.
Akhirnya, dalam perenungan tersebut. Aku mencoba untuk merubah habbitku sebelumnya. Dimulai dari mencoba membuat sebuah jadwal harian yang akan dilakukan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Sudah banyak aku menemukan tips and trick yang aku temukan dalam media sosial tentang merubah mindset agar bisa keluar dar zona nyaman dan berjuang untuk menggapai kesuksesan. Tapi sebelumnya aku hanya sebatas mengetahui, tanpa pernah mau mencoba untuk melalui.
Berangkat dari keinginan yang kuat itu, lantas aku pun bangun dari tempat tidur, pergi ke meja lalu mengambil sebuah pena dan buku catatan, memulai menuliskan langkah-langkah untuk menjalani hari, dimulai dari pagi saat bangun tidur sampai dengan malam hari ketika mau kembali tidur. Dalam tulisan di buku catatanku, aku menulis harus bangun jam 4 pagi, kemudian mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah shalat shubuh. Selepas shalat shubuh, aku harus bisa habiskan waktuku sampai jam setengan 6 pagi untuk membaca Al-Qur’an. Dari jam setengah 6 pagi sampai jam 7 pagi, aku habiskan waktuku untuk membaca sebuah buku, buku apapun itu, pokoknya harus baca buku sampai 7 pagi, mau itu baca satu buku atau baca beberapa buku.
Setelah baca buku sampai jam 7. Aku lanjut untuk membaca berita dari beberapa kanal media berita yang ada dalam gadget. Terlebih baca berita-berita terbaru terkait kondisi, isu terkini, dan apapun itu. tidak lupa sambil ditemani oleh secangkir kopi dan beberapa batang rokok tentunya. Lalu, setelah baca berita selesai kurang lebih setengah jam, aku lanjut untuk melakukan olahraga kecil-kecilan seperti angkat beban, push up, pull up, dan lainnya selama 30 menit. Karena dengan kita melakukan olahraga, sekecil apapun akan berdampak pada tubuh agar tetap fresh dan pikiran juga akan diisi oleh hal-hal yang positif.
Lanjut, setelah olaraga selesai, aku istirat selama 30 menit untuk mendinginkan kembali tubuh dan dan meregangkan otot-otot yang sebelumnya tegang akibat olahraga tersebut. Kemudian setelah itu aku membuka laptop dan mencoba untuk menulis sesuatu yang selama ini belum aku selesaikan, mau itu project buku yang sudah lama mangkrak dan tidak tersentuh, ataupun hanya sebatas menulis opini yang ada dalam pikiranku saat itu.
Aku habiskan waktuku memandangi laptop dan mencoba untuk mengerjakan sesuatu dalam laptop tersebut sampai siang, atau lebih tepatnya jam 10 atau jam 11 siang. Kemudian aku mandi untuk bersiap-siap menunggu waktu dhuhur tiba.
Setelah dhuhur, aku harus keluar rumah, bertemu dengan orang-orang yang selama ini jarang sekali aku temui, karena sebelumnya aku hanya berdiam saja di dalam rumah atau di dalam kamar hanya untuk rebahan saja. Aku estimasikan waktu aku keluar rumah bertemu dengan orang-orang dan mengobrol ringan ataupun berdiskusi sampai maghrib atau mentoknya sampai jam 8 malam. Dan jam 8 malam aku harus sudah pulang ke rumah. Dari jam 8 malam aku bikin jadwal selama satu jam untuk bersenang-senang dengan bermain game yang ada dalam gadget atau dalam laptop selama satu jam. Maksimal satu jam sampai jam 9 malam. Setelah itu, aku harus sudah berada di tempat tidur dan bersiap-siap untuk istirahat. Pokoknya mentok-mentok jam 10 malam aku harus sudah bersiap untuk tidur. Mau bagaimanapun itu, meskipun jikalau nantinya ada sesuatu yang memaksaku untuk tidur lebih dari jam 10, aku harus lihat dulu alasannya, kalau hal-hal produktif seperti diskusi yang memaksaku untuk tidur lebih jam 10 malam, aku akan mentolerir hal itu, karena menurutku diskusi adalah sesuatu yang dapat menambah pengetahuan dan mengasah nalar kritis dalam diriku.
Semuanya sudah aku tulis, jadwal harian yang harus aku lakukan. Aku merobek tulisan dalam buku catatan itu, kemudian aku tempelkan di dinding kamarku sebagai pengingat bahwa aku harus melakukan hal itu. Aku melakukan itu, sebagai sebuah treatment yang aku lakukan terhadap diriku sebagai langkah awal untuk merubah habbit atau kebiasaan buruk yang selama ini aku lakukan.
Hal itu aku lakukan karena sebelumnya aku sangat kecanduan media sosial, berbagai aplikasi media sosial terinstal dalam perangkat gadget yang aku miliki. Dan aku pun tahu bahwa aku tidak bisa dipisahkan dari yang namanya media sosial, dan terus menerus membuka media sosial yang aku miliki tanpa melakukan apapun yang sekiranya produkif bagi diri. Akibat hal itu, aku terjebak dalam zona nyaman bermain dan berselancar di media sosial bahkan bisa sampai berjam-jam menghabiskan waktu yang tidak bisa aku ulang kembali. Aktivitasku saat itu hanya sebatas bermedia sosial, bermain game, ngopi, makan, rebahan, dan istirahat. Jarang sekali aku keluar rumah dan berinteraksi dengan orang sekitar ataupun hanya sekedar nongkrong dan berdiksusi dengan teman-teman sejawatku. Karena hal tersebut, aku sangat sulit mengontrol diriku untuk mencoba melakukan hal-hal yang produktif dan sekiranya bermanfaat.
Maka, atas dasar kesadaran tersebut, aku mencoba untuk membuat sebuah tentangan kepada diriku sendiri untuk menghilangkan candu media sosial dalam diri dengan me-uninstal seluruh media sosial yang ada dalam perangkat gadget ku selama 30 hari ke depan. Menyisakan aplikasi chattingan virtual karena itu adalah hal yang masih penting untuk tetap berkomunikasi dengan teman, kerabat, dan orang lain. Juga menyisakan aplikasi-aplikasi yang sekiranya akan mendatangkan manfaat ke dalam diri, baik itu pengetahuan atau yang lainnya.
Hari demi hari aku melakukan hal-hal yang telah aku jadwalkan. Pada saat itu aku baru sadar, bahwa masih banyak hal di sekelilingku yang luput dari perhatian. Meskipun awal-awalnya aku sangat kesuliatan. Seperti seseorang yang sudah kecanduan zat adiktif dan tiba-tiba berhenti. Itu sungguh sangat menyulitkan. Tapi hari demi hari aku lalui dan aku pun sadar bahwa masih banyak yang bisa aku lakukan tanpa harus mengandalkan media sosial atau gadget yang selama ini menjadi separuh hidupku. Dan rasanya bahagia sekali. Karena dengan kita bermain media sosial, banyak hal-hal negatif yang mempengaruhi pikiranku, seperti inginnya sebuah atensi dari orang-orang dengan berapa banyaknya like or dislike dan ini bisa menjadi sebuah beban, membanding-bandingkan pencapaian di media sosial, bahkan bisa membuat stress.
Semoga saja, dengan melakukan tantangan tersebut, aku dapat mempunyai paradigma baru dalam menggunakan media sosial. Karena memang aku setelah melakukan treatment tersebut, aku masih akan tetap bermain media sosial. Tetapi dengan cara ini, semoga aku jadi tahu bahwa hidup itu tidak hanya sebatas bermedia sosial, tetapi ada yang lebih nyata, yaitu bersosial dengan orang-orang secara langsung dimulai dari lingkungan sekitar dan sekeliling. Dan aku bisa mengurangi penggunaan media sosial, ataupun menggunakan media sosial sebagai alat untuk memberikan hal-hal yang positif yang meningkatkan produktifitasku dalam menjalani kehidupan.
Aku sadar, aku tidak bisa meninggalkan media sosial, apalagi di zaman digital ini, media sosial menjadi salah satu alat untuk meningkatkan produktifitas. Banyak sisi-sisi positif dari media sosial yang bisa kita lakukan dan manfaatkan. Tetapi sayangnya, hanya sedikit orang yang mau melakukan itu, karena saya rasa sebagian orang sudah mengetahui bahwa media sosial bisa mendatangkan dampak positif. Tapi hanya sedikit orang yang sadar dan mau memanfaatkan itu. seperti aku ini, aku tahu sisi negatif media sosial, tapi aku masih saja berada dalam genggaman dan zona itu. sulit sekali keluar dari lingkaran setan tersebut. Makannya itulah dasar dan alasan aku melakukan treatment dengan memberikan tantangan kepada diri untuk mencoba tidak bermedia sosial selama beberapa hari dengan cara me-uninstal semua media sosial yang aku miliki dalam gadget. Dengan alasan untuk menemukan sebuah jawaban dan paradigma baru terkait media sosial. Agar aku mampu memaknai media sosial secara bijak dan menggunakan media sosial dengan produktif dan bermanfaat. Dan semoga saja aku jadi mampu mengontrol diriku dalam bermain media sosial.
Setelah 30 hari aku melakukan puasa media sosial, banyak sekali manfaat yang aku dapatkan. Salah satunya adalah aku lebih sering bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarku ketimbang bersosialisasi dengan teman di dunia maya. Dan itu sungguh nikmat. Aku jadi mendapatkan paradigma dan makna baru dalam bermedia sosial. Karena sekeras apapun kita mgnhindarkan diri dari yang namanya media sosial, di zaman yang sekarang ini sangat sulit, apalagi untuk takaran dirik yang merupakan generasi millenial yang lahir dari rahim dunia yang sudah mengenal teknologi dan digitalisasi. Aku sadar bahwa yang seharusnya jadi paradigma kita sebagai manusia adalah bahwa kitang sedang memainkan media sosial dan memainkan teknologi digital, bukan malah sebaliknya media sosial dan teknologi digital yang memainkan kita. Justru dengan pesatnya perkembangan teknologi, juga semakin banyaknya media sosial yang ada, harus dijadikan motivasi bahwa kita bermain media sosial itu untuk mendapatkan hal atau sesuatu yang baru dan bermanfaat yang menunjang produktifitas kita dalam menjalani kehidupan.
Kita bisa lihat contoh pendiri facebook yaitu mark zuckerberg, lebih banyak memanfaatkan waktu berkumpul dengan keluarganya ketimbang bermain aplikasi ciptaannya yaitu facebook. Bahwa berteman dan berkumpul secara langsung jauh lebih mengasyikan ketimbang berteman secara virtual. Jadi, sebelum kita terjerumus lebih dalam ke dalam jurang negatif media sosial, keluarlah dari lingkaran tersebut dengan mencoba memanfaatkan media sosial ke arah yang positif. Rubahlah mindsetmu bahwa kita sedang bermain media sosial untuk menunjang aktivitas produktif kita, bukan terus menerus terlena oleh kenyamanan media sosial dan kita melupakan hal-hal yang ada di sekitar kita. Manfaatkan media sosial dengan bijak dan positif. Karena kita adalah manusia yang punya akal pikiran dan mampu membuat pilihan terbaik bagi kita. Kita adalah manusia merdeka. Dan kita bukan BUDAK MEDIA SOSIAL.
