Aku sering menemukan kata-kata ketika aku sedang berselancar di media sosial baik itu Tiktok, Instagram, maupun X. Sebuah kalimat yang menggambarkan kehidupan seorang lelaki, bahwasannya kehidupan seorang lelaki itu hanya dipenuhi oleh tuntutan dan beban hidup. Lalu, kalimat serupa mengatakan bahwa laki-laki itu dalam menjalani fase hidupnya cuma bekerja lalu kemudian mati. Benarkah kalimat tersebut?

Lalu, pertanyaannya? Bagaimana seorang lelaki bisa menikmati hidupnya jika kalimat tersebut memang diperuntukkan bagi seorang lelaki? Apakah memang semua lelaki menjalani hidupnya seperti itu sesuai dengan kalimat-kalimat yang sering aku jumpai?

Bagaimana jika ada seorang laki-laki yang berpaling dari tugas hidupnya yang di atas? Apakah masih pantas disebut laki-laki? Atau ada panggilan lain bagi laki-laki yang tidak menjalankan hidupnya sesuai dengan tujuan hidupnya yang di atas? Memang, katanya menjadi seorang laki-laki memang tidak semenyenangkan seperti yang dipikirkan. Karena hidupnya seorang laki-laki hanya dipenuhi oleh tuntutan dan tanggung jawab, tidak hanya kepada dirinya sendiri, melainkan juga tanggung jawab orang-orang disekitarnya -terutama keluarganya-.

Meskipun, menjadi seorang laki-laki tidak sepenuhnya seperti itu. Tetapi memang kebanyakan laki-laki mengalami hal yang demikian didalam fase kehidupannya. Apalagi bagi seorang laki-laki yang lahir dari rahim kemiskinan dan keterbatasan, menjadi sesuatu yang haram jika laki-laki itu mengalami kegagalan karena laki-laki seperti itu hanya memiliki satu nyawa dan ketika nyawanya sudah dipertaruhkan pada sebuah ambisi dan tujuan lalu tujuan dan ambisi tersebut gagal, maka laki-laki tersebut sukar untuk bangkit bahkan tidak punya kesempatan untuk bangkit karena segala keterbatasan hidup yang dimiliki.

Lantas, jika kehidupan laki-laki seperti itu, bagaimana dengan perempuan? apakah menjadi perempuan lebih mudah hidupnya daripada menjadi laki-laki? Stigma negatif yang hari ini masih melekat dalam diri perempuan yang selalu harus di ayomi oleh laki-laki dan tidak boleh mandiri dari laki-laki lebih mudah hidupnya? stigmatisasi perempuan yang tugasnya hanya mengurus dapur, kasur, dan sumur merupakan tugas sejati dari perempuan, sehingga menjadi hal yang haram jika ada perempuan yang tidak menjalankan tugas di atas?

Padahal, jika dianalisis lebih dalam, stigmatisasi yang dialami oleh laki-laki dan perempuan seperti yang disebutkan di atas tidak lahir dengan sendirinya, tidak tiba-tiba melekat dalam kehidupan bermasyarakat hari ini. Jika ditelaah lebih jauh, stigmatisasi laki-laki dan perempuan tersebut merupakan hasil dari sebuah tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat hari ini, di mana tradisi tersebut lahir dari sebuah budaya yang saling dikotomi antara gender. Hal tersebut bermula -jika mengacu pada sejarah revolusi manusia di muka bumi ini- ketika adanya sebuah revolusi kehidupan manusia yang awalnya berada pada zaman pemburu-pengumpul, berevolusi menjadi zaman pertanian yang dari sama mulai adanya domestifikasi segala sesuatu termasuk pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. 

Padahal, adanya domestifikasi tersebut bukan untuk mendikotomi pekerjaan laki-laki dan perempuan -yang nantinya melahirkan budaya patriarki- melainkan demi memudahkan tugas-tugas pada saat itu sebagai sebuah bentuk pembagian kerja untuk menciptakan sebuah kesalingan. Dari kesalingan tersebut lah lahir sebuah harmonisasi kehidupan dalam setiap kelompok masyarakat tersebut.

Namun, penafsiran dan adanya misskomunikasi dari zaman ke zaman tersebut melahirkan sebuah tradisi yang awalnya bertujuan untuk menciptakan harmonisasi dan kesalingan dalam kehidupan bermasyarakat, malah melahirkan sebuah tradisi budaya yang mendikotomi perempuan yaitu budaya patriarki. Dalam budaya patriarki tersebut juga, tidak hanya perempuan yang mengalami dikotomi, tapi juga penekanan terhadap kaum laki-laki yang harus selalu kuat dan tidak boleh lemah. Sehingga, menurutku Budaya patriarki itu tidak hanya berbicara diskriminasi terhadap perempuan, tetapi juga lebih dari itu menyangkut hilangnya harmonisasi dan kesalingan dalam kehidupan bermasyarakat, dalam kehidupan laki-laki dan perempuan yang tidak ada diskriminasi gender di dalamnya.

Sehingga, pada kesimpulannya diskriminasi gender tersebut tidak lahir dengan sendirinya, melainkan lahir dari sebuah budaya yang tidak adanya kesalingan serta keharmonisan antar gender tersebut. Begitulah stigma yang ada hari ini “Laki-laki harus kuat, perempuan selalu lemah”. Padahal, stigma tersebut justru akan melahirkan sebuah kondisi yang saling serang antar gender. Sehingga keharmonisan hubungan masyarakat menjadi sebuah keniscayaan.