Di sebuah kota yang tidak pernah benar-benar selesai dibangun, orang-orang hidup dengan satu kebiasaan yang tidak mereka sadari. Mereka lupa. Dan lupanya itu selalu secara teratur. Bukan lupa seperti kehilangan kunci atau lupa ulang tahun. Tetapi lupa yang lebih rapi, lebih sistematis, dan entah bagaimana… lebih nyaman.

Setiap hari Jumat, tepat pukul 19.00, seluruh kota akan melupakan satu hal. Tidak melupakan sesuatu yang selalu besar. Kadang melupakan nama jalan, kadang wajah seseorang, atau kadang peristiwa kecil yang bahkan tidak sempat dianggap penting.

Tidak ada yang tahu sejak kapan tepatnya kebiasaan itu dimulai. Tidak ada yang ingat siapa yang pertama kali menyadarinya. Karena setiap kali seseorang hamper menemukan pola itu, sesuatu akan terhapus, dan semuanya kembali normal.

Arga adalah seorang jurnalis. Setidaknya itu yang tertulis di kartu identitasnya yang selalu ia cek setiap pagi, seolah takut suatu hari tulisan itu berubah. Ia bekerja di sebuah kantor berita kecil yang lebih sering menyalin pernyataan resmi daripada benar-benar mencari kebenaran atau kalau pake Bahasa jurnalis itu disebut investigasi. Media tersebut jarang melakukan investigasi bukan karena mereka tidak mau, tetapi karena sesuatu selalu hilang sebelum sempat ditulis.

Hari itu Kamis malam. Arga sedang duduk di ruang redaksi yang hamper kosong, ditemani segelas kopi dan suara kipas angin yang berputar dengan malas. Di depannya, ada berkas laporan yang belum ia kirim ke redaksi. Judulnya sederhana:

“Anggaran yang Tidak Pernah Sampai”

Ia menatap angka-angka itu cukup lama. Dana Pembangunan jalan, dana Pendidikan, dana Kesehatan. Semuanya tercatat, semuanya disetujui, tapi di lapangan, tidak ada. Jalan tetap berlubang, sekolah tetap rusak, dan rumah sakit kekurangan obat. Seolah-olah uang itu menghilang di tengah jalan.

Arga menghela napas.

“Ini bukan soal korupsi biasa,” gumamnya.

Ia sudah menulis puluhan laporan seperti ini. Selalu sama, selalu berakhir tanpa hasil. Bukan karena tidak ada bukti, tapi karena sesuatu selalu hilang sebelum laporan itu selesai.

Pukul 18.57. Arga melihat jam di dinding. Tiga menit lagi. Ia kemudian menutup laptopnya, bukan karena Lelah, melainkan karena ia tahu bahwa tidak ada gunanya melanjutkan. Ia lantas berdiri, mengambil jaket, dan keluar dari kantor.

Di jalan, orang-orang mulai melambat, Bukan berhenti, tapi seperti kehilangan sedikit ritme. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, tapi cahayanya terasa redup, seperti tidak benar-benar ingin terlihat.

Pukul 19.00. Tidak ada suara, tidak ada Cahaya yang berubah drastis, tidak ada ledakan atau tanda apa pun. Hanya satu hal yang hilang, dan tidak ada yang tahu apa.

Arga berdiri di trotoar. Ia mencoba mengingat. Apa yang baru saja ia pikirkan? Apa yang baru saja ia rasakan? Ada sesuatu. Sesuatu yang penting. Tapi saat ia mencoba menangkapnya, yang tersisa hanya bayangan. Seperti mimpi yang hilang saat bangun.

Malam itu, Arga pulang dengan perasaan yang familiar. Kosong tapi tidak terasa aneh, seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki.

Keesokan harinya, Arga bangun seperti biasa. Ia mengecek kartu identitasnya. Masih sama. Namanya tetap Arga dan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. Ia kemudian mengangguk kecil.

“Masih gue.”

Di kantor, suasana seperti biasa. Berita-berita ringan, pernyataan resmi, dan tidak ada yang benar-benar penting. Arga lantas duduk di mejanya. Laptop miliknya terbuka, file laporannya masih ada, tapi judulnya berubah:

“Pembangunan Berjalan Sesuai Rencana”

Arga mengerutkan kening.

“Ini bukan yang gue tulis…”

Ia kemudian membuka isi file tersebut. Angka-angka masih ada, tapi maknanya berbeda. Semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang hilang dan tidak ada yang salah.

Arga berdiri, kemudian berjalan ke meja redaktur.

“Pak, ini laporan saya semalam…”

Redaktur itu melihat sekilas.

“Iya, bagus. Publish aja.”

“Tapi ini bukan yang saya tulis.”

Redaktur itu tersenyum tipis.

“Kamu nulisnya itu.”

“Enggak, Pak. Saya yakin…”

“Arga.”

Nada suaranya berubah. Lebih pelan dan lebih berat.

“Kadang… yang kita ingat itu bukan yang terjadi.”

Arga terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti sebuah peringatan.

Hari itu, Arga tidak bekerja. Ia keluar kantor, berjalan tanpa tujuan, dan untuk pertama kalinya ia mencoba melawan kebiasaan kota itu. Ia menulis, bukan di laptop, bukan juga di ponsel. Tapi di kertas. Menulis dengan tangan.

“Setiap Jumat, ada sesuatu yang dihapis.”

Ia menulis itu, lalu melipat kertas tersebut, dan menyimpannya di saku.

Malamnya, ia menunggu. Pukul 18.59. Jantungnya berdetak lebih cepat. Pukul 19.00. Sunyi. Kemudian, Arga membuka kertas itu. Tulisan itu masih ada. Ia tersenyum.

“Berarti nggak semuanya hilang.”

Sejak hari itu, Arga mulai mengumpulkan potongan-potongan kecil, seperti catatan tangan, rekaman suara, ataupun foto-foto yang tidak ia ingat ambil. Semuanya menunjukkan satu hal, yaitu ada sesuatu yang sengaja dihapus, dan penghapusannya itu terstruktur.

Suatu malam, Arga menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah dokumen lama. Tidak ada tanggal dan tidak ada tanda resmi di dokumen tersebut, hanya sebuah judul yang bertuliskan di dokumen tersebut, “Proyek Stabilitas Kolektif”

Ia kemudian membuka dokumen dan membacanya secara pelan-pelan.

“Untuk menjaga ketertiban sosial, diperlukan mekanisme penghapusan memori terpilih.”

“Memori yang mengandung potensi konflik, ketidakpuasan, atau pertanyaan terhadap otoritas, akan dihapus secara berkala.”

“Dengan demikian, masyarakat akan tetap stabil, produktif, dan patuh.”

Arga menelan ludah setelah membaca sebagian tulisan yang ada dalam dokumen tersebut, kemudian ia lanjut mambaca.

“Penghapusan dilakukan setiap siklus mingguan. Hari yang dipilih adalah hari Jumat, pukul 19.00.”

Tangannya gemetar.

“Jadi… ini disengaja,” gumamnya dalam hati.

Di halaman terakhir terdapat sebuah catatan yang bertuliskan, “Catatang: efek samping termasuk hilangnya kesadaran kolektif terhadap penyalahgunaan kekuasaan.”

Arga tertawa kecil setelah membaca keseluruhan dokumen tersebut. Ia tertawa bukan karena lucu, melainkan karena absurd.

“Kita… sengaja dibuat lupa,” katanya.

Malam itu, Arga membuat keputusan bahwa ia akan mengingat apapun yang terjadi. 

Ia mulai menulis semua yang ia tahu. Setiap hari dan setiap malam. Ia lalu menyembunyikan catatan itu di berbagai tempat. Di bawah lantai, di dalam dinding, dan di tempat-tempat yang tidak akan ditemukan.

Perlahan, ia mulai melihat sesuatu yang lebih besar, yaitu korupsi di kota itu bukan sekadar pencurian uang, tapi juga pencurian ingatan. Alhasi, orang-orang tidak marah karena mereka lupa untuk marah, mereka tidak bertanya karena mereka lupa bahwa ada yang perlu ditanyakan, dan mereka hidup dalam versi dunia yang sudah diedit.

Suatu malam, Arga berhasil masuk ke sebuah gedung yang tidak terdaftar. Di dalamnya ada sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh layar. Setiap layar menampilkan kenangan, potongan-potongan kecil dari hidup orang, dan di tengah ruangan ada sebuah mesin, mesin yang tidak terlihat canggih, tapi terasa penting.

Seorang pria berdiri di sana. Berpakaian rapi dan pembawaan yang tenang, 

“Lama juga kamu sampai sini,” katanya.

Arga menatap pria tersebut.

“Kamu yang ngatur ini semua?”

Pria itu tersenyum.

“Kami tidak mengatur. Kami hanya membantu.”

“Membantu apa?”

“Membantu orang melupakan hal-hal yang membuat mereka tidak bahagia.”

Arga tertawa mendengar jawaban dari pria tersebut.

“Dengan nyuri uang mereka?”

Pria itu menggelengkan kepala menandakan tidak setuju dengan pernyataan dari Arga.

“Uang bukan masalah. Masalahnya adalah kesadaran.”

Arga kemudian mendekati pria itu.

“Kamu bikin mereka lupa supaya kamu bisa bebas melakukan apa aja.”

Pria itu mengangguk.
‘Dan mereka… memilih itu.”

Arga berhenti berjalan dengan sedikit heran mendengar apa yang disampaikan oleh pria tersebut.

“Apa maksud kamu?”

Pria itu kemudian menunjuk ke salah satu layar. Di sana terlihat seseorang yang sedang menandatangani sesuatu.

Arga kemudian mendekat, melihat dengan seksama siapa seseorang yang ada di salah satu layar tersebut, Dan wajah itu adalah wajahnya sendiri.

Di layar itu, Arga berkata.

“Saya setuju… untuk tidak mengingat.”

Arga kaget, dan seolah-olah dunia terasa runtuh dengan tiba-tiba. Pria itu kemudian tersenyum dan berkata kepada Arga,

“Kamu bukan korban, Arga.”

“Kamu bagian dari sistem ini.”

Arga lantas mundur.

“Engak…”

“Semua orang di kota ini pernah memilih.”

“Karena kebenaran…. Terlalu berat untuk diingat.”

Arga menatap layar itu. Menatap dirinya sendiri yang ada di layar itu. Ia tampak tersenyum setelah menandatangani itu.

“Jadi… gue sendiri yang memilih buat lupa?”

Pria itu mengangguk.

Suasana menjadi hening dan sunyi sesaat. Kemudian Arga tertawa pelan, awalnya, kemudian ie tertawa lebih keras, dan berhenti.

Ia melihat mesin itu, melihat semua kenangan yang disimpan, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti. Bahwa kebenaran bukan disembunyikan, tetapi kebenaran itu ditinggalkan.

Arga melangkah maju mendekati mesin tersebut.

“Kalau gue hancurin ini… mereka bakal inget?”

Pria itu mengangkat bahu bahwa ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.

“Mungkin.”

“Atau…”

“Atau mereka akan memilih untuk lupa lagi.”

Arga terdiam sesaat, kemudian tersenyum. Lalu ia mematikan mesin tersebut. Lampu padam, layar mati, dan suasana menjadi sunyi beberapa detik, atau mungkin lebih lama. Lalu, cahaya kembali datang. Orang-orang di jalan berhenti, menatap sekeliling, bingung, dan teriakan mulai terdengar. Marah, panik, dan takut semuanya bercampur menjadi satu. 

Kota itu, akhirnya ingat. Tentang uang yang hilang, tentang kebohongan, dan tentang semua hal yang pernah dihapus. Arga berdiri di tengah kekacauan itu sambil menatap sekelilingnya, lalu perlahan ia mulai tersenyum.

Keesokan harinya, semuanya kembali normal. Jalan masih berlubang, sekolah masih rusak, rumah sakit masih kekurangan obat, dan tidak ada satupun orang yang membicarakan apa yang terjadi semalam. 

Di sebuah meja redaksi kecil, Arga duduk sambil menulis laporan. Judul laporan yang sedang ia tulis adalah,

“Pembangunan Berjalan Sesuai Rencana”

Ia berhenti sejenak, menatap layar, lalu melanjutkan mengetik laporannya. Di laci mejanya, tersembunyi sebuah kertas. Tulisan tangan.

“Setiap Jumat, kita lupa.”

Tapi kertas itu… kosong. Dan Arga tidak merasa ada yang salah.