Siapa sih yang tidak mengetahui hewan yang bernama ulat? Hewan kecil berbulu yang membuat seseorang yang melihatnya menjadi geli dan jijik. Bahkan ada beberapa ulat yang jika disentuh oleh tangan atau kulit manusia bisa menyebabkan gatal-gatal. Meskipun ada beberapa orang yang tidak merasa jijik dan geli ketika menyentuh hewan yang bernama ulat. Tetapi kebanyakan manusia akan merasa geli dan membuat bulu disekujur tubuhnya merinding. Karena banyak yang beranggapan jika kulit kita menyentuh ulat maka kulit kita akan mengalami gatal-gatal bahkan bisa menyebabkan infeksi kulit.

Spesies ulat begitu banyak tersebar di dunia ini. Di Indonesia pun spesies ulat begitu banyaknya, ada ulat yang berbulu lebat, ada juga ulat yang bulunya sedikit dan tidak kelihatan. Ada ulat besar, ulat bulu raksasa, ulat daun, ulat bulu api, ulat bulu gigi, dan masih banyak jenis ulat yang tersebar dihampir seluruh penjuru dunia.

Selanjutnya, kita pasti mengetahui hewan yang bernama kupu-kupu. Hewan nan indah yang memancarkan keindahannya lewat sayapnya yang penuh seni dengan berbagai motif. Ada yang berwarna biru, kuning, merah, putih, dibalut dengan variasi garis-garis hitam. Ada juga yang membentuk sebuah gambar yang indah. Namun, perlu diketahui, bahwa kupu-kupu yang indah itu awalnya adalah seekor ulat yang menjijikan dan menggelikan.

Ketika kupu-kupu itu masih menjadi seekor ulat, banyak orang yang enggan untuk memegang dan mendekatinya, melihatnya pun sepertinya banyak yang enggan. Padahal ketika sudah menjadi kupu-kupu itu dielu-elukan keindahannya. Kita juga pasti mengetahui bahwa kupu-kupu yang indah itu berasal dari seekor ulat yang dianggap oleh sebagian orang adalah hewan yang menggelikan bahkan menjijikan. Dan kita pasti sudah mengetahui bagaimana proses metamorfosis dari seekor ulat menjadi sebuah kupu-kupu. Dimana proses metamorfosis dari sebuah serangga bernama ulat ini adalah ada 4 macam. Yaitu dari proses masih merupakan telur, kemudian telur itu menetas menjadi sebuah ulat, dan ketika sudah menjadi ulat, ulat tersebut akan mencari tempat untuk menjadi sebuah kepompong, dan ketika sudah menjadi kepompong, ulat yang ada dalam kepompong akan bertransformasi menjadi seekor kupu-kupu yang indah.

Dalam proses ketika menjadi kepompong, ulat akan berpuasa tidak makan dan tidak minum biasanya selama 7-20 hari tergantung jenis ulatnya. Dalam kepompong, bagian tubuh ulat yang lama mengalami transformasi yang luar biasa. Proses ini yang disebut metamorfosis. Jaringan, anggota badan, dan semua organ ulat berubah saat kepompong selesai berproses. Baru setelah itu muncul kupu-kupu dewasa. Begitulah proses kehidupan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu melalui proses metamorfosis.

Pernah tidak kita memaknai dari kehidupan seekor ulat? Dimulai dari hewan yang dianggap menggelikan dan menjijikan, berubah menjadi hewan yang indah dan dinikmati keindahannya oleh kita, manusia. Kita harus belajar dari kehidupan seekor ulat. Kita, manusia tidak akan dianggap indah begitu saja oleh manusia lainnya jika tidak mengalami proses metamorfosis terlebih dahulu.

Begitu pun manusia, manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan potensi akal yang ada dalam setiap diri manusia, kita harus bisa memaksimalkan potensi akal yang diberikan ini untuk senantiasa melakukan perjalanan menuju keindahan. Agar kita, manusia bisa diakui eksistensinya oleh manusia lainnya. Potensi akal yang kita miliki tersebut harus bisa membantu dalam membentuk sebuah keyakinan yang lebih yakin dan kuat akan peranan kita hidup di dunia ini-yaitu menjadi khalifah di muka bumi ini. Kita juga harus mempunyai keyakinan yang sepenuh hati dan menggantungkan keyakinan tersebut kepada yang Maha pemberi keyakinan yaitu Allah SWT.

Layaknya seekor ulat, ada proses metamorfosis untuk bertransformasi menjadi kupu-kupu. Jika kita mencoba memaknai hidup dari seekor ulat, kita juga harus melakukan proses metamorfosis dengan salah satunya yaitu melakukan kontemplasi/perenungan akan hakikat kita hidup di dunia yang fana ini. Agar buah dari proses tersebut, kita bisa menjadi manusia yang ulul albab. Karena tidak secara tiba-tiba manusia menjadi seseorang yang ulul albab jika tidak melalui proses metamorfosis dalam hal ini perenungan diri secara maksimal.

Manusia yang ulul albab adalah manusia yang memiliki keistimewaan atau yang dapat menggunakan akal fikirannya untuk memahami ayat-ayat qauniyyah. Menurut Al-Qur’an, ulul albab adalah kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Diantara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksanaan, dan pengetahuan -disamping pengetahuan yang diperoleh mereka secara empiris.

Ketika didalam kepompong ulat berpuasa selama 7-20 hari sampai ulat tersebut berubah dan bertransformasi menjadi kupu-kupu. Kita pun manusia bisa memaknai proses tersebut yaitu ketika dalam proses perenungan diri, kita harus mencoba untuk berpuasa, tetapi yang lebih penting daripada berpuasa adalah berpuasa secara batin, yaitu mencoba menahan segala hawa nafsu jelek yang tiap hari selalu menusuk relung hati setiap manusia. Dan begitulah makna dari proses berpuasa sebenarnya, tidak hanya sebatas tidak makan dan minum, tetapi yang lebih penting adalah berpuasa dari perbuatan tercela. Karena bisa dikatakan bahwa puasa adalah sebagai simulasi untuk mencapai manusia yang ulul albab yang mampu menahan segala hawa nafsu dalam diri.

Bagaimana si ulat ketika menjadi kepompong menggantungkan hidupnya hanya pada sehelai benang yang menempel di pepohonan, resiko hidup dan matinya si ulat tergantung pada kondisi sehelai benang tersebut, dengan berbagai tempaan yang dihadapi seperti angin yang kencang, hujan, dan pengaruh alam lainnya. Juga dari pengaruh hewan lainnya yang bisa saja merusak kepompong tersebut sehingga kepompong tersebut jatuh dan rusak yang mengakibatkan proses metamorfosisnya tidak maksimal. Mau seberapa besar tempaan yang dihadapi oleh si cangkang kepompong tersebut, si ulat tetap menekadkan keyakinannya pada cangkang dan pada sehelai benang tersebut.

Begitupun dengan kita, manusia. Harus menggantungkan hidupnya hanya pada satu tekad dan keyakinan. Meskipun banyak cobaan dan godaan didalamnya. Yang penting kita harus senantiasa menekadkan hatinya pada sang Maha ketika dalam proses perenungan tersebut. Mau seberapa besar cobaan dan tempaan hidup yang kita alami selama ini, tempaan tersebut tidak hanya sebatas tempaan belaka, tetapi ada hikmah yang harus kita ambil dan maknai dari setiap tempaan yang kita hadapi tersebut agar kita bisa bertransformasi menjadi manusia yang ulul albab yang mampu memberikan keindahan -manfaat- kepada manusia lainnya. Dan manusia yang ulul albab adalah manusia yang mampu memaknai setiap hal yang terjadi dan mengambil makna positif untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi.