Nama Penulis              : Fitri Nganthi Wani
Tahun Terbit               : 2018
Penerbit                       : Warning Books
Jumlah Halaman         : VII + 113 Hal
Nomor ISBN              : 978-602-61975-3-5

Fitri Nganthi Wani lahir di Solo, 6 Mei 1989, adalah putri sulung dari penyair yang hilang pada 1998, Wiji Thukul. Wiji adalah seorang aktivis sekaligus penyair yang syair nya membuat ketir rezim orde baru pada waktu itu. Melalui kata-katanya, dia berhasil membuat ancaman bagi rezim orde baru karena syair-syairnya yang tajam dan kritis.

Fitri, sebagai seorang sulung harus tumbuh besar tanpa sosok ayah, bersama ibunya dan adik laki-lakinya. Akibat kerinduannya yang membantu, kegeramannya yang memuncak, serta kepasrahan atas nasib ayahnya, ia rangkum dalam sebuah rangkaian kata, bait demi bait dalam sebuah buku yang berjudul Kau Berhasil Menjadi Peluru.

Saya sebetulnya kurang memahami tentang sastra, bagaimana cara menganalisisnya serta segala teoretis mengenai sastra. Saya hanya suka membaca saja sambil sesekali menerawang tentang apa yang ditulis itu. yaa, memang benar, sastra itu multitafsir. Dan yang paling tahu makna sebenarnya dari sebuah karya sastra adalah penulisnya itu sendiri.

Begitupun ketika saya membaca buku Kau Berhasil Jadi Peluru yang ditulis oleh Fitri Nganthi Wani. Pikiran atau imajinasi saya langsung tertuju pada sosok ayahnya yaitu Wiji Thukul. Karena saya teringat bahwa Wiji Thukul pernah menulis sebuah antologi puisi yang berjudul Aku Ingin Jadi Peluru. Jadi saya sudah tersudutkan bahkan sebelum membaca buku secara keseluruhan bahwa puisi-puisi yang ditulis oleh Wani adalah sebuah kata-kata yang sedikit banyaknya ditujukan kepada mendiang ayahnya, yaitu Wiji Thukul.

Dalam buku Kau Berhasil Jadi Peluru, terdapat 52 puisi yang ditulis oleh Wani selama kurang lebih 1 windu yang didalamnya menceritakan kerinduan pada sosok ayah serta menjelaskan bagaimana seorang ibu dan anak yang kehilangan sosok ayah. Bahkan ibu yang harus senantiasa berjuang sendirian yang tetap menunggu sang ayah pulang. Kumpulan puisi dalam buku ini merupakan sekumpulan rasa yang menjadi satu, yang didalamnya ada kerinduan, kemarahan, perlawanan, serta kepahitan.

Kerinduan seorang anak kepada ayahnya ditulis lewat salah satu puisinya:

Bapak
Jika kau ingin tahu
Senyata apa rindu yang kupendam
Maka bacala puisiku ini
(Penggalan Puisi yang berjudul Selalu Bapak)

Begitupun kebanggaan Wani kepada sosok ayahnya tertulis pada puisinya:

Selalu cemerlang
Sebening lintang
Bapakku, kebanggaanku
Dimanapun engkau berada
Setialah pada tekad
Kapanpun engkau ingin pulang
Pintu rumah selalu terbuka untukmu
Pejamkan mata saat kau rindu
Aku memelukmu dalam ingatan
(Puisi berjudul Bapak)

Ada juga sebuah kemarahan kepada penguasa yang enggan untuk menuntaskan kasus tersebut. Karena selain Wiji Thukul, ada juga beberapa orang yang hilang dan belum mendapatkan kejelasan sampai saat ini seperti yang ditulis dalam puisinya:

Aku rangkaian bait yang tak pernah diam
Lahir dari rahim pertiwi yang diperkosa Soeharto
Mulutku sumpah serapah untuk Orde Baru
Karena aku bayi yang belajar berjalan sendiri
Kali ini
Rentenir lebih mulia
Daripada harga diri seorang presiden
Persetan dengan segudang prioritas lain

Aku rangkaian bait yang tak pernah diam
Membangun tugu peringatan
Akan matinya tanggung jawab sebuah Negara
(Penggalan Puisi yang berjudul Aku Rangkaian Bait yang Tak Pernah Diam)

Kumpulan puisi ini seperti mengajak kita untuk kembali mengingat sosok Wiji Thukul yang merupakan seorang aktivis yang selalu bersuara lantang memperjuangkan keadilan lewat syair-syarinya yang tajam dan kritis membuat rezim Orde Baru waktu itu geram. Juga merupakan sebuah memoar tentang peristiwa kelam masa lalu yang pernah terjadi. Ketika penghilangan paksa orang-orang yang dianggap mengancam rezim. Ia terus bersuara dengan lantang untuk mencari sebuah keadilan atas peristiwa tersebut.

Buku Kau Berhasil Jadi Peluru merupakan bacaan wajib bagi kalian yang sudah mengenal sosok Wiji Thukul serta ingin mengenal tentang sastra. Membaca buku ini membuat kita seperti merawat ingatan akan sebuah perjuangan yang didalamnya ada orang-orang yang tidak boleh dilupakan. Merawat ingatan lewat sebuah kata-kata.