Benarkah satu-satunya cara menghilangkan kekecewaan dan menuju kebahagiaan adalah kematian? Apakah jalan untuk menuju keabadian adalah dengan cara melalui kematian? Benarkah pemikiran-pemikiran yang demikian? Tidak adakah jalan lain selain kematian?. Ada sebagian orang yang menganggap kematian adalah sebuah bentuk paripurna dari kenikmatan. Katanya tidak ada kenikmatan yang lebih indah dari kematian. Lantas, kenapa masih banyak manusia yang takut akan kematian?Kenapa masih banyak manusia yang berlomba-lomba agar terhindar dari kematian? Bukankah kematian adalah satu-satunya kebenaran yang ada. Dan kita sebagai manusia harus benar-benar yakin akan kebenaran tersebut, karena setiap orang tidak akan pernah bisa melewatkan yang namanya kematian, karena dengan kematian, kita akan menuju sebuah hidup yang penuh keabadian.
Aku sendiri pun sebetulnya takut untuk menghadapi kematianku sendiri. Tetapi, hal tersebut lah yang paling membuatku rindu akan datangnya sebuah kematian. Namun, aku sempat berpikir apakah aku masih sanggup menjalani kehidupan yang penuh dengan kesengsaraan ini. Penuh dengan kekecewaan yang selalu mengikuti setiap langkah kaki kehidupanku ini. Kekecewan yang timbul dari diri sendiri ataupun kekecewaan orang lain terhadap diriku. Adakah manusia selain diriku yang mengalami banyak kekecewaan dalam hidup? Bagaimana rasanya orang yang merasakan hal tersebut? Apakah orang tersebut juga menanti datangnya kematian ke dalam hidupnya?. Entahlahh.. yang pasti aku sangat menantikan datangnya kematian agar aku bisa melenggang bebas menuju sebuah keabadian.
Aku juga sempat berpikir dan bertanya-tanya, kiranya kematian yang seperti apa yang akan mendatangiku? Atas sebab apa nanti aku akan menghadapi kematian? Apakah aku akan mati dalam keadaan tubuh rusak karena tergilas kendaraan, mati karena jatuh dari ketinggian, atau mati dalam keadaan tubuhku terbungkus selimut dan tertidur di kasur empuk nan mewah? Tapi yang paling tidak aku inginkan dalam menghadapi kematian adalah ketika aku mati dalam keadaan tenggelam di tengah lautan. Katanya, mati karena sebab tenggelam adalah cara yang sangat menyakitkan. Emang semenyakitkan apa mati dalam keadaan tenggelam? Bukankah hidup ini juga sudah sangat menyakitkan? Menyakitkan bagi orang-orang yang hanya sedikit mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan.
Ohh.. Tuhan. Dimana kamu berada saat aku sedang mengalami kesakitan dan kekecewaan? Dimana rasa kasih sayang-Mu yang senantiasa disampaikan oleh para pemuka agama? Kenapa engkau terus membiarkan hamba-hambamu mengalami kesakitan yang amat sangat luar biasa?. Masih kurangkah aku dan orang-orang yang senasib denganku memujamu? Pemujaan yang seperti apa yang kamu inginkan Tuhan agar aku dan orang-orang yang nasibnya sama denganku bisa sedikit merasakan nikmatnya kehidupan?. Bahkan aku tidak pernah luput untuk memuja dan berdoa kepadamu, berdoa agar aku diberikan sebuah kenikmatan dalam menjalani kehidupan ini. Apalagi, aku lebih banyak bersujud pasrah meminta ampunan kepadamu daripada aku melalaikan kewajibanku sebaai hamba-Mu. Apakah masih kurang pemujaanku atas diri-Mu sehingga aku masih terus mengalami kesengsaraan dalam hidup ini?.
Aku dulu sangat yakin akan kuasa-Mu. Aku sangat yakin akan kebesaran-Mu. Aku dulu sangat yakin akan kasih sayang-Mu kepada hambanya. Tapi, sekarang aku mengalami keraguan akan hal itu. Kenapa orang-orang yang bahkan tidak memuja dan menyembahmu diberikan kenikmatan dan kebahagiaan ketimbang orang-orang yang senantiasa menyembah-Mu?. Apakah itu yang dimaksud dengan kebesaran-Mu Tuhan? Apakah itu juga termasuk dengan konsep keadilan-Mu Tuhan? Jika benar demikian, kenapa konsep keadilanmu tidak sama dengan konsep yang dipahami oleh hamba-Mu ini.
Aku dulu belajar untuk memahami norma-norma agama, aku berjuang mati-matian untuk melaksanakan norma yang ada dalam agama tersebut. Bahkan, aku dulu sangat membenci orang-orang yang tidak mengakui dan menyembahmu. Tetapi, sekarang aku belajar, bahwa menunggu keadilan-Mu saja tidak cukup. Menyembah dan memuja-Mu saja tidak cukup. Perlu langkah lain yang mesti aku lakukan untuk menghindari kehidupan yang biasa ini. Perlu tekad dan niat yang kuat untuk kembali meragukan kebesaran-Mu agar aku lebih kuat lagi ketika aku sudah siap mengakui dan meyakini kemaha kuasaan-Mu.
Keraguanku terhadap kebesaran-Mu dimulai dengan langkah aku mulai mempertanyakan esensi dari agama yang ada. Khususnya agama monoteis yang semuanya berasal dari Ibrahim. Yahudi, Nasrani (kristen), dan Islam. Ketiga agama tersebut merupakan agama yang lahir dari keturuan Ibrahim. Yahudi merupakan penamaan agama yang lahir saat zaman Nabi Musa dan disembah oleh pengikutnya yaitu Bani Israil. Nasrani adalah penamaan agama yang lahir ketika Nabi Isa lahir dari rahim perempuan suci bernama Maryam, sedangkan Islam adalah penamaan agama yang lahir pada masa Nabi penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad.
Aku memulai jalan keraguan itu dengan mempertanyakan dan mempelajari ketiga agama tersebut. Karena, menurutku ada beberapa kesamaan ajaran yang diajarkan dari ketiga agama tersebut. Meskipun itu hanya sebatas pemahaman asal-asalanku saja. Sewaku aku kecil, guru ngajiku sering berbicara bahwa dua agama terdahulu yaitu yahudi dan nasrani sudah mengalami perubahan ajaran dan sudah sangat melenceng dari ajaran awalnya. Karena menurut guruku itu, sebetulnya baik Yahudi ataupun Nasrani sejatinya merupakan agama yang bernafaskan keIslamana. Nah.. justru Islam inilah merupakan agama penyempurna dari agama-agama para nabi sebelumnya. Meskipun ada guru ngajiku yang lain yang meyebutkan bahwa semua agama para nabi itu adalah semuanya Islam, atau dalam definisi secara bahasa semua agama para nabi itu merupakan agama yang mengajarakan keselamatan di dunia dan akhirat, yang membedakan hanyalah penamaannya saja. Kurang lebih begitu yang disampaikan oleh guru ngaji sewaktu aku kecil. Dari ingatanku waktu kecil, aku mulai-mulai mempelajari ajaran-ajaran yang ada di dalam dua agama tersebut, meskipun tidak terlalu mendalam aku mempelajarinya, hanya sekedar untuk menemukan keyakinan akan keagungan dan eksistensi Tuhan agar sifat keraguan yang ada dalam diriku tentang Tuhan bisa berubah menjadi sebuah keyakinan yang tidak tergoyahkan oleh ombak dan badai apapun.
Namun, yang paling aku pahami setelah beberapa kali membaca dan mempelajari agama samawi tersebut, bahwa kesamaannya adalah ketiga agama tersebut meyakini adanya kehidupan lain setelah kematian. Meyakini adanya surga dan neraka, meskipun konsep surga dan neraka serta indikator-indikator seseorang masuk kedalam kategori penghuni surga dan neraka, ketiga agama tersebut berbeda. Hal yang sama hanyalah orang yang melakukan kejahatan akan masuk neraka, dan orang melakukan kebaikan akan masuk surga. Lagi-lagi, neraka dan surga hanya akan dirasakan ketika kita semua sudah melewati sebuah pintu bernama kematian. Satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran akan keberadaan surga dan neraka secara valid adalah dengan cara mati terlebih dahulu. Sehingga sampai sekarang, keberadaan surga dan neraka oleh orang-orang yang beragama hanya sebatas diyakini dan belum dibuktikan. Surga dan neraka baru pada tahap pengetahuan, belum sampai pada tahap ilmu.
Tapi, yang menarik dalam konsep ajaran kebaikan dan konsep kejahatan dari ketiga agama tersebut berbeda. Sehingga justru, dari sanalah aku mulai tertarik untuk mencoba memahami konsep kebaikan dan kejahatan. Langkah awalnya dengan sebuah pertanyaan mendasara yaitu “Apa yang dimaksud dengan kebaikan dan kejahatan, serta apa indikator seseorang melakukan kebaikan dan seseorang melakukan kejahatan dan apakah kebaikan dan kejahatan itu perlu kesepakatan orang-orang agar seseorang bisa dikategorikan telah melakukan kejahatan atau sebaliknya”.
Menurutku, kebaikan dan kejahatan memiliki pemahaman yang berbeda-beda dari setiap orang. Lalu, dalam kadar apa seseorang menyepakati perbuatan itu disebut kebaikan dan kejahatan. Karena kompleksitas yang akan ditemukan ketika kita mencoba menguraikan dan membedah konsep kebaikan dan kejahatan. Belum lagi nantinya menyoal perilaku. Ada yang disebut perilaku baik ada pula yang disebut perilaku jahat.
Sebagai gambaran awal, ada satu contoh yang membuatku mengalami kerumitan untuk membedah dua konsep tersebut. yaitu ketika seseorang melakukan tindakan pencurian kepada orang kaya yang kikir, lalu hasil curiannya tersebut dibagikan kepada orang-orang miskin yang memang sangat membutuhkan. Nah perilaku tersebut masuk kategori perilaku kejahatan atau kebaikan?. Atau ketika seseorang memiliki niat baik untuk memperbaiki kondisi alam yang sudah rusak ini dengan melenyapkan penyebab kerusakan alam tersebut yaitu manusia dengan cara genosida atau pembunuhan massal, hal tersebut termasuk kategori kebaikan atau kejahatan. Dua contoh tersebut seakan-akan menabrakkan konsep kebaikan dan kejahatan yang dipahami oleh orang-orang. Aku coba memikirkan kompleksitas dari konsep tersebut, mencoba menemukan jawaban yang pas yang menurutku akan lebih masuk akal dan lebih memperjelas batasan antara kebaikan dan kejahatan.
